Senin, 13 Februari 2012

In Heaven "Special Story"

Lagi, tentang In Heaven-nya JYJ. Walau lagu ini mulai dirilis pertengahan tahun 2011, tapi sampai sekarang masih aja sering dengerin lagu ini, nggak ada bosannya. kali ini Reirinka mau posting Indonesia translation  In  Heaven sama sebuah cerita dari video klip-nya. bisa dibilang cerita video klip yang dinarasikan. hehe.

Untuk translationnya, maaf sekali kalau misalnya ada yang salah terjemah. maklum aja udah terjemahan di terjemahin lagi. kalau ada yang salah, silakan aja comment, nanti biar dibenerin.

Selamat menikmati...




menyapu keajaiban dari melihatmu
aku tak mungkin mampu untuk terus hidup
bahkan ketika aku telah lari dari setiap mimpi
hal pertama yang aku lihat adalah wajahmu
aku merasa seperti telah dibajiri oleh rintik hujan dunia ini

sejak kapan aku melihamu?
selamanya
bahkan jika ada penyesalan, yaitu ketika sama sekali tak ada cara untuk melihatmu
kenangan dari sebuah bayangan
kelembaban dari sebuah nama
ada di sana di dalam kenangan kecil itu

aku tak bisa melakukannya, sengguh tak bisa
seperti kau berada di sisiku
tak menunggu, aku tak menunggu lagi
aku akan mencoba lagi untuk mengatakan sesuatu
aku akan mecoba lagi untuk meninggalkan beberapa kenangan
berjalan di dalam mimpi
dalam langkahku
takut untuk menutup mataku

jangan pergi, jangan tinggalkan aku
tak bisakah kau tetap berada di sisiku
bohong, semuanya bohong
aku tak dapat mendengarkan apapun
mencintaimu, aku mencintaimu
tak dapatkah kau melihatnya
mencintaimu, aku mencintaimu
akankah kau mencintaiku lagi

sangat cepat, kau telah benar-benar terlupakan
jejak untuk mencarimu juga telah menghilang

jalan terakhir ini, diikuti oleh air mataku
lagi, aku se-dikit lebih dekat (lagi, hampir sama)

(aku juga telah berubah)
kau tak ada di sini di sisiku
aku akan pergi sekarang
aku akan pergi
sekarang aku akan mengikuti jalanmu
mengikuti jalan yang tak akan pernah berakhir
pergi kemanapun untuk mencarimu
aku takut kehilanganmu akan membawa kesedihan

jangan pergi, jangan tinggalkan aku
tak bisakah kau tetap berada di sisiku
bohong, semuanya bohong
aku tak bisa mendengar apapun
mencintaimu, aku mencintaimu
tak dapatkah kau melihatnya
mencintaimu, aku mencintaimu
akankah kau mencintaiku lagi

jangan pergi, jangan pergi, bisakah kau tetap di sini
bohong, bohong, aku tak bisa dengar
aku mencintaimu, aku mencintaimu, dapatkah kau melihatnya
aku mencintaimu, aku mencintaimu, akankah kau mencintaiku

jangan pergi, jangan pergi, bisakah kau tetap di sini
bohong, bohong, aku tak bisa dengar
aku mencintaimu, aku mencintaimu, dapatkah kau melihatnya
aku mencintaimu, aku mencintaimu, akankah kau mencintaiku

jangan pergi, jangan pergi, bisakah kau tetap di sini
bohong, bohong, aku tak bisa dengar
aku mencintaimu, aku mencintaimu, dapatkah kau melihatnya
aku mencintaimu, aku mencintaimu, akankah kau mencintaiku
aku mohon padamu, kembalilah padaku

jangan pergi, jangan tinggalkan aku
tak bisakah kau tetap berada di sisiku
bohong, semuanya bohong
aku tak bisa mendengar apapun
mencintaimu, aku mencintaimu
tak dapatkah kau melihatnya
mencintaimu, aku mencintaimu
akankah kau mencintaiku lagi






Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Junsu. Hari ini ada sebuah rapat penting yang menentukan karirnya, jika dia berhasil memukau para dewan dengan presentasinya tentu saja usaha yang dia lakukan selama ini tidak akan sia-sia. Ya, demi hari ini dia sudah mengorbankan banyak hal. Mengorbankan pikirannya dan yang paling penting dia juga telah mengorbankan waktunya yang sangat berharga untuk Jihyo kekasihnya.
                Junsu sangat tegang menghadapi rapat hari ini. Dia kembali mengecek penampilannya. Walau berapa kali pun Junsu mengecek panampilannya, penampilannya hari itu sudah sempurna. Rambutnya rapi sempurna, kemeja dan jasnya licin, dasi-pun sudah cocok, untuk wajah tak usah ditanyakan lagi. Diantara para karyawan Junsu dikenal sebagai seorang pria yang tampan. Badannya tinggi tegap, wajahnya lonjong, dan ketika tersenyum sangat manis. Selain terkenal karena wajahnya, Junsu juga dikenal sebagai pekerja yang rajin, pandai, dan juga ramah sehingga banyak rekan kerja yang senang dengan pria ini.
Tanpa dia sadari, orang yang paling berharga baginya di luar sana sedang sangat sedih.   Ya, Jihyo benar-benar sedih. Selama lebih dari tiga tahun bersama dengan Junsu, Junsu jarang sekali menghabiskan waktu bersamanya. Pekerjaan, selalu pekerjaan. Jihyo tau Junsu sangat menyukai pekerjaannya, tapi ini sudah keterlaluan. Jihyo berjalan gontai, entah dia berjalan ke mana. Air matanya terus mengalir tak mau berhenti. Jalanan ramai yang ia laluipun seperti hanya sebuah jalan sepi dimana hanya dia yang melaluinya. Dia mencoba menelpon Junsu berharap masih ada perhatian dari Junsu untuknya.
                Di dalam rapat itu Junsu dengan segala yang ia miliki mempresentasikan hasil pekerjaannya selama beberapa waktu terakhir ini. Junsu bisa melihat para atasannya merasa puas dengan apa yang ia lakukan. Ditengah presentasinya ia sadar handphonenya bergetar. Ia ragu sejenak, dia ingin mengangkat telpon itu tapi dia sedang berada ditengah presentasi. Tanpa sempat menengok siapa yang menelponnya dia menlanjutkan presentasinya. Dan Junsu tidak sadar bahwa itu adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan dalam hidupnya.
                Kali ini Jihyo benar-benar putus asa. Entah ini sudah yang keberapa kalinya Junsu tak mengangkat telponnya, Jihyo sudah tak dapat menghitungnya. Harapan terakhirnya sirna, air matanya mengalir semakin deras. Dia terus melangkah tanpa memperhatikan apa yang ada disekitarnya. Jihyo tanpa sadar terus melangkah menuju jalan raya padahal jalan sedang ramai dan lampu lalu lintas sedang menyala hijau. Pikirannya benar-benar kacau, Jihyo terlalu sedih. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menuju kearahnya. Dia menyadari mobil itu menuju ke arahnya, tapi dia sama sekali tak bergerak. Tak ada kekuatan dan kemauan untuk menghindari mobil itu dan... BRAKKKK
***
Agustus 2011
                Sudah tiga bulan sejak kematian Jihyo. Memang rapat itu berjalan sesuai dengan harapan Junsu, tapi di saat bersamaan dia kehilangan hal terpenting yang dimilikinya. Dia kehilangan seseorang yang sangat dia cintai. Sejak kematian Jihyo, tidak semalampun dia tidak memimpikannya. Dia memimpikan wajah Jihyo, memimpikan kecelakaan yang menimpa Jihyo. Dia tak pernah bisa memaafkan dirinya sendiri karena hal itu.
Junsu menjadi sangat kacau. Rumahnya berantakan, dulu rumah mungil itu selalu rapi. Bunga-bunga yang ada di rumahnya layu dan mati semua. Padahal selama ini Junsu selalu rajin menyiram bunga-bunga itu, bunga dari Jihyo.
                Waktu berjalan dengan sangat lambat. Junsu mencoba melanjutkan hidupnya, tetap bekerja seperti biasa. Tapi dia tidak sama seperti sebelumnya. Walau semua berjalan dengan baik tapi dia tidak pernah bisa bahagia seperti sebelumnya. Bagaimana mungkin setelah kehilangan Jihyo dia tetap seperti dulu. Tersenyum, tapi tidak tersenyum. Hatinya membeku.
Ketika mencoba mengingat kemabali tentang Jihyo tak ada yang bisa diingatnya. Ingatannya tentang Jihyo terus menghilang. Bukan, bukan menghilang, tapi dia memang tidak mempunyai ingatan maupun kenangan yang manis bersama Jihyo. Dia tak pernah meluangkan waktu untuk wanita yang paling dicintainya itu.
Kini dia menyesal, ketika Jihyo membutuhkannya dia tak pernah ada disampingnya. Selalu saja pekerjaan yang dia utamakan. Dan ketika Junsu sudah kehilangan Jihyo, Junsu baru sadar betapa ia sangat mencintainya. Tapi semua sudah terlambat. Junsu sudah tak bisa lagi melihat wajahnya, melihat senyumannya yang manis, menatap matanya yang indah, menggenggam tangannya.
***

Kehidupan rasanya menjadi hal yang membosankan bagi Junsu. Bekerja dari pagi sampai sore, dan ketika malam ada waktu Junsu melakukan beberapa latihan kecil. Begitu terus, selalu berulang-ulang. Tak ada hal yang menggembirakan, menyenangkan, selalu sama.
Malam itu Junsu jogging mengelilingi kompleks perumahannya. Junsu berlari dipinggiran jalan, sambil melihat lampu kota yang gemerlapan. Walaupun belum terlalu larut tapi tak banyak kendaraan yang melintas malam itu.  Malam itu sungguh tenang dan hangat. Setelah sekitar 30 menit  jogging Junsu memutuskan untuk membeli minum lalu istirahat disebuah mini market yang ada di pinggiran jalan itu. Junsu tau persis letak minuman yang dicarinya, karena setiap jongging dia pasti akan mampir ke mini market ini.
Pada jam-jam seperti ini biasanya minimarket sedikit sepi, tapi malam itu ada seorang anak kecil dalam mini market itu. Anak kecil itu terus memperhatikan  lolipop yang berada di meja kasir. Junsu memperhatikan anak itu.
Kenapa anak ini sendirian pada jam seperti ini? Batin Junsu. Junsu mendekati meja kasir untuk mebayar minumannya.
“Tolong sekalian hitung ini juga”, Junsu menyodorkan sebuah lolipop kepada penjaga kasir itu. Setelah membayarnya Junsu memberikan lolipop tersebut kepada anak kecil tadi sambil tersenyum ramah. Junsu berjalan keluar mini market dan duduk di tempat duduk yang berada diluar mini market. Segera saja botol minuman yang dari tadi dipegang Junsu buka. Dalam sekali teguk saja setengah dari isi botol itu lenyap. Tiba-tiba saja ada suara kecil yang menyapanya.
“Paman”, rupanya anak kecil yang tadi. Sebenarnya Junsu sedikit kaget karena ternyata anak kecil itu masih di sini. Anak kecil itu tiba-tiba bertanya, “Paman kelihatannya sangat sedih dan kesepian. Apa ada seseorang yang paman rindukan?”
Junsu terkejut mendengar pertanyaan anak itu. Wajah Jihyo-pun langsung muncul dalam benaknya. Sesaat Junsu terdiam, baru ia menjawab pertanyaan anak kecil itu.
“Benarkah?”, Junsu diam lagi lalu menjawab pertanyaan bocah itu. “Iya, paman memang sedang merindukan seseorang. Tapi orang yang paman rindukan, sampai kapanpun paman tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Tapi...”, belum sampai ia menyelesaikan kata-katanya anak kecil tadi menghilang. Junsu menoleh ke sana kemari. Tapi percuma saja, anak kecil itu seperti menghilang tanpa jejak. Aneh sekali, pikir Junsu. Tapi dengan segera pikirannya kembali pada Jihyo.
Benar sekali, aku sangat merindukannya. Jihyo... apa ini semua karma untukku? Karena aku tak pernah memikirkanmu. Tapi kenapa kau pergi begitu saja seperti itu? Apa yang harus kulakukan? Aku, sangat ingin melihatmu.
Junsu melangkah pulang, sambil tetap memikirkan tentang Jihyo. Karena pertanyaan anak  tadi bayangan Jihyo tetap berada di dalam pikirannya. Sampai sesaat sebelum Junsu tertidur ia tetap memikirkan Jihyo.
***

Pagi ini rasanya alarm Junsu berdering lebih keras, dengan rasa enggan Junsu mematikan alarmnya dan perlahan membuka matanya. Junsu menyeret kakinya menuju kulkasnya dan meraih sebotol air minum. Setelah beberapa teguk tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Siapa sih pagi-pagi begini datang? Protes Junsu dalam hati.
Junsu berjalan santai ke arah pintu rumahnya, sambil mengenakan cardigan. Pelan-pelan dia membuka pintu sambil bertanya-tanya siapa yang pagi-pagi datang ke rumahnya. Perlahan-lahan wajah orang yang memencet bel itu tampak. Seorang gadis cantik yang sedang tersenyum manis ke arah Junsu. Junsu tak percaya dengan apa yang dilihatnya, tanpa sadar matanya membelalak.
Bagaimana bisa? Pertanyaan itu langsung melintas dipikirannya. Dia terlalu terkejut sampai tak bisa berkata apa-apa. Itu, benar-benar Jihyo??? Tapi,  itu sama sekali tak mungkin.
Gadis itu yang tadinya tersenyum berubah menjadi cemberut melihat ekspresi Junsu yang sepertinya kaget melihat dirinya di sini. Tanpa berkata apa-apa gadis itu berjalan masuk. Gadis itu berjalan langsung menuju dapur, menaruh tas plastik yang sedari tadi dibawanya ke atas meja.
Junsu masih tetap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Berjalan mengikuti sosok yang sangat dia rindukan dengan tertatih-tatih. Bagaimana mungkin? Apa aku bermimpi? Langkahnya terhenti tepat didepan kulkas yang tak jauh berada dari tempat gadis itu berdiri.
           “Ka... kau...”, Junsu sama sekali tak mampu berkata apa-apa. Dia masih bingung apakah dia sedang berada dalam mimpi. Tapi jika ini memang hanya mimpi tapi kenapa rasanya begitu nyata. Sosoknya, wajahnya, senyumannya, wajah cemberutnya, langkahnya, semuanya.

           JIHYO!!!


Bersambung...


Baca Selengkapnya  »»
 
Design Downloaded from Free Blogger Templates | Free Website Templates