Lagi, tentang In Heaven-nya JYJ. Walau lagu ini mulai dirilis pertengahan tahun 2011, tapi sampai sekarang masih aja sering dengerin lagu ini, nggak ada bosannya. kali ini Reirinka mau posting Indonesia translation In Heaven sama sebuah cerita dari video klip-nya. bisa dibilang cerita video klip yang dinarasikan. hehe.
Untuk translationnya, maaf sekali kalau misalnya ada yang salah terjemah. maklum aja udah terjemahan di terjemahin lagi. kalau ada yang salah, silakan aja comment, nanti biar dibenerin.
Selamat menikmati...
menyapu keajaiban dari melihatmu
aku tak mungkin mampu untuk terus hidup
bahkan ketika aku telah lari dari setiap mimpi
hal pertama yang aku lihat adalah wajahmu
aku merasa seperti telah dibajiri oleh rintik hujan dunia ini
sejak kapan aku melihamu?
selamanya
bahkan jika ada penyesalan, yaitu ketika sama sekali tak ada cara untuk melihatmu
kenangan dari sebuah bayangan
kelembaban dari sebuah nama
ada di sana di dalam kenangan kecil itu
aku tak bisa melakukannya, sengguh tak bisa
seperti kau berada di sisiku
tak menunggu, aku tak menunggu lagi
aku akan mencoba lagi untuk mengatakan sesuatu
aku akan mecoba lagi untuk meninggalkan beberapa kenangan
berjalan di dalam mimpi
dalam langkahku
takut untuk menutup mataku
jangan pergi, jangan tinggalkan aku
tak bisakah kau tetap berada di sisiku
bohong, semuanya bohong
aku tak dapat mendengarkan apapun
mencintaimu, aku mencintaimu
tak dapatkah kau melihatnya
mencintaimu, aku mencintaimu
akankah kau mencintaiku lagi
sangat cepat, kau telah benar-benar terlupakan
jejak untuk mencarimu juga telah menghilang
jalan terakhir ini, diikuti oleh air mataku
lagi, aku se-dikit lebih dekat (lagi, hampir sama)
(aku juga telah berubah)
kau tak ada di sini di sisiku
aku akan pergi sekarang
aku akan pergi
sekarang aku akan mengikuti jalanmu
mengikuti jalan yang tak akan pernah berakhir
pergi kemanapun untuk mencarimu
aku takut kehilanganmu akan membawa kesedihan
jangan pergi, jangan tinggalkan aku
tak bisakah kau tetap berada di sisiku
bohong, semuanya bohong
aku tak bisa mendengar apapun
mencintaimu, aku mencintaimu
tak dapatkah kau melihatnya
mencintaimu, aku mencintaimu
akankah kau mencintaiku lagi
jangan pergi, jangan pergi, bisakah kau tetap di sini
bohong, bohong, aku tak bisa dengar
aku mencintaimu, aku mencintaimu, dapatkah kau melihatnya
aku mencintaimu, aku mencintaimu, akankah kau mencintaiku
jangan pergi, jangan pergi, bisakah kau tetap di sini
bohong, bohong, aku tak bisa dengar
aku mencintaimu, aku mencintaimu, dapatkah kau melihatnya
aku mencintaimu, aku mencintaimu, akankah kau mencintaiku
jangan pergi, jangan pergi, bisakah kau tetap di sini
bohong, bohong, aku tak bisa dengar
aku mencintaimu, aku mencintaimu, dapatkah kau melihatnya
aku mencintaimu, aku mencintaimu, akankah kau mencintaiku
aku mohon padamu, kembalilah padaku
jangan pergi, jangan tinggalkan aku
tak bisakah kau tetap berada di sisiku
bohong, semuanya bohong
aku tak bisa mendengar apapun
mencintaimu, aku mencintaimu
tak dapatkah kau melihatnya
mencintaimu, aku mencintaimu
akankah kau mencintaiku lagi
JIHYO!!!
Baca Selengkapnya »»
Untuk translationnya, maaf sekali kalau misalnya ada yang salah terjemah. maklum aja udah terjemahan di terjemahin lagi. kalau ada yang salah, silakan aja comment, nanti biar dibenerin.
Selamat menikmati...
menyapu keajaiban dari melihatmu
aku tak mungkin mampu untuk terus hidup
bahkan ketika aku telah lari dari setiap mimpi
hal pertama yang aku lihat adalah wajahmu
aku merasa seperti telah dibajiri oleh rintik hujan dunia ini
sejak kapan aku melihamu?
selamanya
bahkan jika ada penyesalan, yaitu ketika sama sekali tak ada cara untuk melihatmu
kenangan dari sebuah bayangan
kelembaban dari sebuah nama
ada di sana di dalam kenangan kecil itu
aku tak bisa melakukannya, sengguh tak bisa
seperti kau berada di sisiku
tak menunggu, aku tak menunggu lagi
aku akan mencoba lagi untuk mengatakan sesuatu
aku akan mecoba lagi untuk meninggalkan beberapa kenangan
berjalan di dalam mimpi
dalam langkahku
takut untuk menutup mataku
jangan pergi, jangan tinggalkan aku
tak bisakah kau tetap berada di sisiku
bohong, semuanya bohong
aku tak dapat mendengarkan apapun
mencintaimu, aku mencintaimu
tak dapatkah kau melihatnya
mencintaimu, aku mencintaimu
akankah kau mencintaiku lagi
sangat cepat, kau telah benar-benar terlupakan
jejak untuk mencarimu juga telah menghilang
jalan terakhir ini, diikuti oleh air mataku
lagi, aku se-dikit lebih dekat (lagi, hampir sama)
(aku juga telah berubah)
kau tak ada di sini di sisiku
aku akan pergi sekarang
aku akan pergi
sekarang aku akan mengikuti jalanmu
mengikuti jalan yang tak akan pernah berakhir
pergi kemanapun untuk mencarimu
aku takut kehilanganmu akan membawa kesedihan
jangan pergi, jangan tinggalkan aku
tak bisakah kau tetap berada di sisiku
bohong, semuanya bohong
aku tak bisa mendengar apapun
mencintaimu, aku mencintaimu
tak dapatkah kau melihatnya
mencintaimu, aku mencintaimu
akankah kau mencintaiku lagi
jangan pergi, jangan pergi, bisakah kau tetap di sini
bohong, bohong, aku tak bisa dengar
aku mencintaimu, aku mencintaimu, dapatkah kau melihatnya
aku mencintaimu, aku mencintaimu, akankah kau mencintaiku
jangan pergi, jangan pergi, bisakah kau tetap di sini
bohong, bohong, aku tak bisa dengar
aku mencintaimu, aku mencintaimu, dapatkah kau melihatnya
aku mencintaimu, aku mencintaimu, akankah kau mencintaiku
jangan pergi, jangan pergi, bisakah kau tetap di sini
bohong, bohong, aku tak bisa dengar
aku mencintaimu, aku mencintaimu, dapatkah kau melihatnya
aku mencintaimu, aku mencintaimu, akankah kau mencintaiku
aku mohon padamu, kembalilah padaku
jangan pergi, jangan tinggalkan aku
tak bisakah kau tetap berada di sisiku
bohong, semuanya bohong
aku tak bisa mendengar apapun
mencintaimu, aku mencintaimu
tak dapatkah kau melihatnya
mencintaimu, aku mencintaimu
akankah kau mencintaiku lagi
Hari ini adalah hari yang sangat
penting bagi Junsu. Hari ini ada sebuah rapat penting yang menentukan karirnya,
jika dia berhasil memukau para dewan dengan presentasinya tentu saja usaha yang
dia lakukan selama ini tidak akan sia-sia. Ya, demi hari ini dia sudah
mengorbankan banyak hal. Mengorbankan pikirannya dan yang paling penting dia
juga telah mengorbankan waktunya yang sangat berharga untuk Jihyo kekasihnya.
Junsu
sangat tegang menghadapi rapat hari ini. Dia kembali mengecek penampilannya. Walau
berapa kali pun Junsu mengecek panampilannya, penampilannya hari itu sudah
sempurna. Rambutnya rapi sempurna, kemeja dan jasnya licin, dasi-pun sudah
cocok, untuk wajah tak usah ditanyakan lagi. Diantara para karyawan Junsu
dikenal sebagai seorang pria yang tampan. Badannya tinggi tegap, wajahnya
lonjong, dan ketika tersenyum sangat manis. Selain terkenal karena wajahnya,
Junsu juga dikenal sebagai pekerja yang rajin, pandai, dan juga ramah sehingga
banyak rekan kerja yang senang dengan pria ini.
Tanpa dia sadari,
orang yang paling berharga baginya di luar sana sedang sangat sedih. Ya, Jihyo benar-benar sedih. Selama lebih dari
tiga tahun bersama dengan Junsu, Junsu jarang sekali menghabiskan waktu
bersamanya. Pekerjaan, selalu pekerjaan. Jihyo tau Junsu sangat menyukai
pekerjaannya, tapi ini sudah keterlaluan. Jihyo berjalan gontai, entah dia
berjalan ke mana. Air matanya terus mengalir tak mau berhenti. Jalanan ramai
yang ia laluipun seperti hanya sebuah jalan sepi dimana hanya dia yang
melaluinya. Dia mencoba menelpon Junsu berharap masih ada perhatian dari Junsu
untuknya.
Di
dalam rapat itu Junsu dengan segala yang ia miliki mempresentasikan hasil
pekerjaannya selama beberapa waktu terakhir ini. Junsu bisa melihat para
atasannya merasa puas dengan apa yang ia lakukan. Ditengah presentasinya ia
sadar handphonenya bergetar. Ia ragu sejenak, dia ingin mengangkat telpon itu
tapi dia sedang berada ditengah presentasi. Tanpa sempat menengok siapa yang
menelponnya dia menlanjutkan presentasinya. Dan Junsu tidak sadar bahwa itu
adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan dalam hidupnya.
Kali
ini Jihyo benar-benar putus asa. Entah ini sudah yang keberapa kalinya Junsu
tak mengangkat telponnya, Jihyo sudah tak dapat menghitungnya. Harapan
terakhirnya sirna, air matanya mengalir semakin deras. Dia terus melangkah
tanpa memperhatikan apa yang ada disekitarnya. Jihyo tanpa sadar terus
melangkah menuju jalan raya padahal jalan sedang ramai dan lampu lalu lintas sedang
menyala hijau. Pikirannya benar-benar kacau, Jihyo terlalu sedih. Sebuah mobil
dengan kecepatan tinggi menuju kearahnya. Dia menyadari mobil itu menuju ke
arahnya, tapi dia sama sekali tak bergerak. Tak ada kekuatan dan kemauan untuk
menghindari mobil itu dan... BRAKKKK
***
Agustus 2011
Sudah
tiga bulan sejak kematian Jihyo. Memang rapat itu berjalan sesuai dengan
harapan Junsu, tapi di saat bersamaan dia kehilangan hal terpenting yang
dimilikinya. Dia kehilangan seseorang yang sangat dia cintai. Sejak kematian
Jihyo, tidak semalampun dia tidak memimpikannya. Dia memimpikan wajah Jihyo,
memimpikan kecelakaan yang menimpa Jihyo. Dia tak pernah bisa memaafkan dirinya
sendiri karena hal itu.
Junsu menjadi
sangat kacau. Rumahnya berantakan, dulu rumah mungil itu selalu rapi. Bunga-bunga
yang ada di rumahnya layu dan mati semua. Padahal selama ini Junsu selalu rajin
menyiram bunga-bunga itu, bunga dari Jihyo.
Waktu
berjalan dengan sangat lambat. Junsu mencoba melanjutkan hidupnya, tetap
bekerja seperti biasa. Tapi dia tidak sama seperti sebelumnya. Walau semua
berjalan dengan baik tapi dia tidak pernah bisa bahagia seperti sebelumnya.
Bagaimana mungkin setelah kehilangan Jihyo dia tetap seperti dulu. Tersenyum,
tapi tidak tersenyum. Hatinya membeku.
Ketika mencoba
mengingat kemabali tentang Jihyo tak ada yang bisa diingatnya. Ingatannya
tentang Jihyo terus menghilang. Bukan, bukan menghilang, tapi dia memang tidak
mempunyai ingatan maupun kenangan yang manis bersama Jihyo. Dia tak pernah
meluangkan waktu untuk wanita yang paling dicintainya itu.
Kini dia menyesal,
ketika Jihyo membutuhkannya dia tak pernah ada disampingnya. Selalu saja
pekerjaan yang dia utamakan. Dan ketika Junsu sudah kehilangan Jihyo, Junsu
baru sadar betapa ia sangat mencintainya. Tapi semua sudah terlambat. Junsu
sudah tak bisa lagi melihat wajahnya, melihat senyumannya yang manis, menatap
matanya yang indah, menggenggam tangannya.
***
Kehidupan
rasanya menjadi hal yang membosankan bagi Junsu. Bekerja dari pagi sampai sore,
dan ketika malam ada waktu Junsu melakukan beberapa latihan kecil. Begitu
terus, selalu berulang-ulang. Tak ada hal yang menggembirakan, menyenangkan,
selalu sama.
Malam itu
Junsu jogging mengelilingi kompleks perumahannya. Junsu berlari dipinggiran
jalan, sambil melihat lampu kota yang gemerlapan. Walaupun belum terlalu larut
tapi tak banyak kendaraan yang melintas malam itu. Malam itu sungguh tenang dan hangat. Setelah
sekitar 30 menit jogging Junsu
memutuskan untuk membeli minum lalu istirahat disebuah mini market yang ada di pinggiran
jalan itu. Junsu tau persis letak minuman yang dicarinya, karena setiap
jongging dia pasti akan mampir ke mini market ini.
Pada jam-jam
seperti ini biasanya minimarket sedikit sepi, tapi malam itu ada seorang anak
kecil dalam mini market itu. Anak kecil itu terus memperhatikan lolipop yang berada di meja kasir. Junsu
memperhatikan anak itu.
Kenapa anak ini sendirian pada jam seperti
ini? Batin Junsu. Junsu mendekati meja kasir untuk mebayar minumannya.
“Tolong
sekalian hitung ini juga”, Junsu menyodorkan sebuah lolipop kepada penjaga kasir
itu. Setelah membayarnya Junsu memberikan lolipop tersebut kepada anak kecil
tadi sambil tersenyum ramah. Junsu berjalan keluar mini market dan duduk di
tempat duduk yang berada diluar mini market. Segera saja botol minuman yang
dari tadi dipegang Junsu buka. Dalam sekali teguk saja setengah dari isi botol
itu lenyap. Tiba-tiba saja ada suara kecil yang menyapanya.
“Paman”,
rupanya anak kecil yang tadi. Sebenarnya Junsu sedikit kaget karena ternyata
anak kecil itu masih di sini. Anak kecil itu tiba-tiba bertanya, “Paman
kelihatannya sangat sedih dan kesepian. Apa ada seseorang yang paman rindukan?”
Junsu terkejut
mendengar pertanyaan anak itu. Wajah Jihyo-pun langsung muncul dalam benaknya.
Sesaat Junsu terdiam, baru ia menjawab pertanyaan anak kecil itu.
“Benarkah?”,
Junsu diam lagi lalu menjawab pertanyaan bocah itu. “Iya, paman memang sedang
merindukan seseorang. Tapi orang yang paman rindukan, sampai kapanpun paman
tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Tapi...”, belum sampai ia menyelesaikan
kata-katanya anak kecil tadi menghilang. Junsu menoleh ke sana kemari. Tapi
percuma saja, anak kecil itu seperti menghilang tanpa jejak. Aneh sekali, pikir Junsu. Tapi dengan
segera pikirannya kembali pada Jihyo.
Benar sekali, aku sangat merindukannya. Jihyo...
apa ini semua karma untukku? Karena aku tak pernah memikirkanmu. Tapi kenapa
kau pergi begitu saja seperti itu? Apa yang harus kulakukan? Aku, sangat ingin
melihatmu.
Junsu
melangkah pulang, sambil tetap memikirkan tentang Jihyo. Karena pertanyaan anak
tadi bayangan Jihyo tetap berada di
dalam pikirannya. Sampai sesaat sebelum Junsu tertidur ia tetap memikirkan
Jihyo.
***
Pagi ini
rasanya alarm Junsu berdering lebih keras, dengan rasa enggan Junsu mematikan
alarmnya dan perlahan membuka matanya. Junsu menyeret kakinya menuju kulkasnya
dan meraih sebotol air minum. Setelah beberapa teguk tiba-tiba bel rumahnya
berbunyi. Siapa sih pagi-pagi begini
datang? Protes Junsu dalam hati.
Junsu berjalan
santai ke arah pintu rumahnya, sambil mengenakan cardigan. Pelan-pelan dia
membuka pintu sambil bertanya-tanya siapa yang pagi-pagi datang ke rumahnya.
Perlahan-lahan wajah orang yang memencet bel itu tampak. Seorang gadis cantik
yang sedang tersenyum manis ke arah Junsu. Junsu tak percaya dengan apa yang
dilihatnya, tanpa sadar matanya membelalak.
Bagaimana bisa? Pertanyaan itu langsung
melintas dipikirannya. Dia terlalu terkejut sampai tak bisa berkata apa-apa. Itu, benar-benar Jihyo??? Tapi, itu sama sekali tak mungkin.
Gadis itu yang
tadinya tersenyum berubah menjadi cemberut melihat ekspresi Junsu yang
sepertinya kaget melihat dirinya di sini. Tanpa berkata apa-apa gadis itu
berjalan masuk. Gadis itu berjalan langsung menuju dapur, menaruh tas plastik
yang sedari tadi dibawanya ke atas meja.
Junsu masih tetap
tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Berjalan mengikuti sosok yang sangat
dia rindukan dengan tertatih-tatih. Bagaimana
mungkin? Apa aku bermimpi? Langkahnya terhenti tepat didepan kulkas yang
tak jauh berada dari tempat gadis itu berdiri.
“Ka... kau...”, Junsu sama sekali tak mampu berkata
apa-apa. Dia masih bingung apakah dia sedang berada dalam mimpi. Tapi jika ini
memang hanya mimpi tapi kenapa rasanya begitu nyata. Sosoknya, wajahnya,
senyumannya, wajah cemberutnya, langkahnya, semuanya.
JIHYO!!!
Bersambung...

